Rabu, 4 November 2009
Makin mahalnya biaya kesehatan membuat masyarakat kian mudah tergoda pada tawaran produk asuransi. Lihat saja, saban tahun peminat asuransi jiwa terus melambung. Apalagi, kini produk asuransi tak hanya memberikan perlindungan, tapi juga peluang berinvestasi sekaligus kepada pemegang polis plus berbagai iming-iming. Namun, kendati variasinya cukup banyak, dalam asuransi jiwa sebenarnya hanya dikenal dua bentu asuransi : term life insurance dan whole life insurance. Asuransi jiwa term life adalah polis yang menyediakan jaminan terhadap risiko meninggal dunia dalam periode waktu tertentu yang relative singkat, biasanya setahun. Dengan demikian, premi yang harus dibayarkan oleh nasabah produk ini juga lebih rendah ketimbang asuransi jiwa lainnya. Jadi jaminan utang Sementara asuransi whole life merupakan polis permanen yang berlaku sampai si pemegang polis meninggal. Prinsipnya, selama premi di bayar, polis asuransi akan selalu memberikan perlindungan. Itu sebabnya, premi whole life lebih mahal. “Pada akhir kontrak, pemegang polis mendapatkan 100% uang pertanggungan,” ujar Direktur Pemasaran dan Komunikasi Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Kumala D. Ruslie. Lantaran harus membayar premi mahal, keuntungan pemegang polis juga seabrek-abrek. Pertama, mereka pasti akan mendapatkan nilai tunai dari premi yang dibayar. Jika pemegang polis meninggal, dana pertanggungan bisa diberikan kepada ahli waris. Kedua, nilai tunai yang akan dinikmati nasabah bisa dijadikan jaminan untuk mendapatkan pinjaman tunai selama masa kontrak. Seandainya, kontrak dihentikan ditengah jalan, pemegang polis tetap mendapatkan benefit berupa uang. “Hasil investasi juga akan dikembalikan sesuai pertumbuhan investasinya.” Jelas Direktur Pemasaran Jiwasraya De Yong Adrian. Maryoso, Direktur Utama Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, menjelaskan saat ini ada dua jenis produk asuransi whole life, yaitu produk tradisional dan unitlink. Perbedaan mendasar kedua produk itu terletak dalam kemasannya. Pada produk konvensional pembayaran premi disesuaikan dengan jangka waktu tertentu. Misalnya, 5 tahun atau 10 tahun. “Semakin panjang masa pembayaran preminya, besarnya setoran makin rendah,” katanya. Adapun pada unitlink, kata Maryoso, ibarat asuransi term life yang dikemas jadi whole life. Nasabah tetap akan mendapatkan nilai pertanggungan sesuai kontrak. Berbeda dengan whole life konvensional, pada unitlink, sejak awal nasabah sudah mengetahui porsi investasi dan asuransi dalam premi. Maryoso menambahkan, bagi nasabah yang beranimenghadapi risiko (risk taker), produk unitlink lebih cocok. Namun, bagi nasabah konservatif, Maryoso menyarankan mereka untuk memilih produk whole life konvensional. Memang, saat ini whole life yang konvensional makin sulit ditemui. Beberapa perusahaan malah sudah menghapus produknya. “Kami sudah menghapus produk whole life bergaransi sejak tahun 2000,” ujar Tri Joko Santoso, Wakil Presiden Direktur Panin Life. Seperti apa perkembangan produk whole life saat ini ?Berikut sejumlah produknya. PT Asuransi Jiwa Jiwasraya Asuransi pelat merah ini sudah lama menjual produk whole life. Manfaat produk ini adalah jaminan proteksi seumur hidup, uang pertanggungan setelah si tertanggung meninggal dan tambahan lain bagi ahli waris. Intinya, setiap produk memberikan manfaatnya sendiri, tergantung pilihan nasabah. De Yong menjelaskan, produk asuransi whole life Jiwasraya agak unik karena memiliki paket khusus. Misalnya ada paket 65 tahun dan 75 tahun. Paket tersebut disesuaikan dengan umur rata-rata harapan hidup orang Indonesia yang dihitung dan dievaluasi oleh aktuaria. Jika pemegang polis ternyata masih hidup hingga paket habis, uang jaminan dikembalikan kepada tertanggung. De Yong bilang, sebelum tahun 2000 Jiwasraya masih menawarkan paket 90 tahun. Tapi, karena mahal, produk itu dihapus. Saat ini yang masih tersedia tinggal beberapa produk seperti Eka Pralaya, Dwi Pralaya, dan Tri Pralaya. Pada Eka Pralaya, pertanggungan efetif jika si tertanggung meninggal atau tetap hidup hingga polis berakhir. Pemegang polis bisa menerima pertanggungan sebelum meninggal. Syaratnya, pembayaran polis tetap berjalan. Jaminan ini diberikan dalam paket 75 tahun. Produk Dwi Pralaya hamper sama. Bedanya, uang asuransi yang bakal dinikmati ahli waris dua kali lebih besar jika si tertanggung meninggal saat masih membayar premi. Sebaliknya, jika pemegang polis masih hidup sampai paket berakhir, manfaat asuransi yang diterima hanya 100%. Jumlah itu turun menjadi 75% jika pemegng polis meninggal setelah pembayaran premi berakhir. Pada produk Tri Pralaya, pemegang polis bisa menikmati dana tunai hingga 300% dari premi, jika dia meninggal sebelum pembayaran premi berakhir. Setiap asuransi punya peluang untuk di beri rider, namun tidak bisa seumur hidup. “Rider biasanya tidak bisa diperpanjang ketika masa pembayaran premi berakhir,” katanya. Karena preminya mahal, produk ini lebih dilirik korporasi. Biasanya korporasi memberikannya dalam bentuk employee benefit plan, semacam jaminan hari tua. Preminya pun bisa berubah, menyesuaikan inflasi. Namun, untuk nasabah individu, besarnya premi maupun pertanggungan tetap. Nah, agar minat nasabah individual meningkat, Jiwasraya mengemas asuransi whole life ini menjadi produk investasi berupa unit link. Jumlah nasabah produk ini baru 1% dari total 575.000 nasabah whole life Jiwasraya. “Nasabahnya biasanya wiraswasta yang pendapatannya naik turun,” katanya.
Sumber : Kontan, Edisi Khusus-Nopember